PLURALIST vs MARXIST
Sebelumnya saya mengucapkan rasa syukur yang luar biasa karena pada akhirnya saya bisa berkonsentrasi dan memiliki waktu yang cukup banyak untuk melaksanakan tugas membuat blog ini. Rasanya menulis blog tentang matakuliah STUDI MEDIA ini akan menjadi kebiasaan baru saya selama smester ini. Memang benar jika apa yang telah saya pelajari dalam Stumed ini, perlu diulas kembali dalam suatu bentuk tulisan seperti blog ini tentunya agar saya tidak lupa begitu saja. Dan juga ini dapat membantu saya untuk merangkai sebuah kalimat akan materi yang telah saya dapat dan melatih kemampuan saya tentang sejauh mana kedalaman dan keahaman saya akan materi tersebut.
Untuk materi minggu pertama dan kedua rasanya belum bisa untuk saya jelaskan, dikarenakan minggu pertama dan kedua itu saya tidak mengikuti mata kuliah ini. Untuk materi minggu ke-3 disini saya mempelajari tentang “Medi Dalam Perspektif Pluralist dan Marxist”. Melihat dari judulnya saja awalnya saya terbengong-bengong. Setelah dibahas oleh Bu Eni, akhirnya terpecahkanlah kebengongan itu sedikit demi sedikit.
Menurut Media Dalam Perspective Pluralist dan Marxist ini, ternyata media itu bisa dihat dalam dua perspektif yang tentunya saling berlawanan. Yaitu perspektif kaum Pluralist dan juga perspektif kaum Marxist. Dalam perspektif Pluralist terdapat beberapa macam asumsi general, yaitu: 1)Masyarakat terdiri dari beragam kelompok yang datang bersama-sama untuk melobi dan untuk mewakili kepentingan mereka sebelum pemerintah. Keragaman kepentingan ini memberikan keseimbangan dan kekuatan kepada masyarakat secara keseluruhan. Dan semua suara potensial dapat didengar. 2)Kekuatan tiap kelompok untuk mewakili kepentingannya kurang lebih sama. Sehingga tidak ada kelompok yang dapat mendominasi isu tertentu sepanjang waktu. 3)Pemerintah bertindak sebagai wasit yang tidak memihak atas nama kepentingan umum, membantu untuk mencapai keadilan dan hanya berkompromi untuk persaingan tuntutan. 4)Kehidupan politik (di tingkat warga negara dan di tingkat institusional) bebas dari kehidupan ekonomi. Kaya dan miskin dianggap sama dalam pemerintahan dan hukum. 5) Pelaksanaan kekuasaan terlihat.
Dari hasil penjelasan yang saya tangkap, perspektif pluralis ini tercipta karena mereka melihat bahwa masyarakat dianggap bebas dan setara. Maksudnya bebas disini masyarakat dianggap bebas memilih media apapun sebagai sumber informasinya dan tidak terikat oleh hal apapun. Sedangkan setara disini berarti masyarakat dianggap sama dalam segi ekonomi, tidak ada kaya ataupun miskin. Selain kebebasan pada masyarakat ternyata mediapun juga dianggap bebas, media yang bersifat bebas berarti semua orang bisa mengakses media tanpa adanya batasan tentang informasi yang ingin orang tersebut dapatkan dari berbagai pilihan media yang ada. Dengan munculnya berbagai macam media tersebut dan kebebasan untuk mengakses media juga kebebasan untuk memilih media, maka pesan yang disampaikan dari berbagai media tersebut beragam dan tidak terjadi homogenisasi pesan, sehinga tidak membuat masyarakat menjadi bosan dengan pesan atau informasi yang itu-itu saja. Adanya kebebasan yang diberikan media untuk mengakses segala macam informasi, maka media menganggap bahwa masyarakat bersifat aktif dalam mencari informasi yang mereka butuhkan sehingga mediapun dapat memilih tentang informasi apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.
Perspektif Marxist melihat bahwa basis ekonomi masyarakat dipandang sebagai segala sesuatu yang menentukan dalam masalah sosial, politik dan kesadaran intelektual. Maka itu dalam perspektifnya yang selalu mendasari bahwa matrealistis adalah segalanya, Marxist ini dikatakan bersifat kapitalis. Jika menurut Perspektif marxist ini masyarakat terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan tingkat ekonominya. Jadi ada masyarakat yang dominan tentunya dengan tingkat ekonomi yang tinggi, dan ada juga masyarakat yang didominasi dengan tingkat ekonomi yang rendah. Lalu mediapun menjadi tidak bebas karena dikuasai oleh para kelompok yang mendominasi. Dengan adanya kekuasaan pada kelompok yang mendominasi media-media tersebut membuat media-media tersebut tidak bebas. Karena penguasaan oleh kelompok dominan itulah maka isi dari media itupun menjadi hanya berisi tentang kepentingan dari kelompok dominan tersebut. Karena media dikuasai oleh kelompok-kelompok yang dominan, maka akan berujung pada pesan yang disampaikan oleh media tersebut menjadi sejenis dan tidak beragam dan hanya berisi tentang kepentingan para kelompok dominan tersebut. Begitupun sifat khalayak akan menjadi berubah pasif karena akses mereka terbatas untuk mendapatkan informasi-informasi yang mereka butuhkan.
Dalam classic marxist juga menjelaskan bahwa masyarakat memiliki Base-structure dan Superstructure.Base-structure ini berupa faktor-faktor produksi sedangkan Superstructure-nya berupa semua bentuk budaya. Dalam Technological Determinist dikatakan bahwa tekhnologi menentukan arah atau bentuk masyarakat, karena dengan adanya kemajuan tekhnologi seperti sekarang ini membuat sikap dan perilaku manusia berubah. Contonhnya dalam suatu tayangan televisi yang menampilkan kehidupan mewah ataupun kehidupan remaja sejarang yang sering di tampikan dalam sinetron-sinetron saat ini. Rasanya tayangan-tayangan itu menjadi acuan anak muda jaman sekarang dalam pergaulan. Mereka menganggap hal-hal yang terjadi dalam sinetron atau hal-ha yang ditayangkan dalam televisi adalah dunia nyata mereka, seperti yang dijelaskan dalam teori kultivasi. Sedangkan apa yang menjadi isi dari setiap media dalam perspektif marxist semuanya ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Oleh karena itu kelompok yang memiliki modal lebih banyak berhak untuk menentukan isi atau konten dari media yang dia inginkan, meskipun isinya hanya berupa kepentingan kelompok pemodal tersebut.
Karakteristik dari perspektif Marxist ini diantaranya : 1) Media dianggap sebagai faktor-faktor produksi; 2)Membentuk ideologi berupa “kesadaran palsu”; 3) Media sebagai penguat dominasi; dan 4) Membentukan manusia sebagai subjek.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar